Ruhut Ambarita

23 Agustus 2009

Bagi-bagi Kekuasaan


Gambar kartun oleh P.C.Vey/The New Yorker

Diposting oleh Ruhut Ambarita di 3:14 AM Tidak ada komentar:
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

SELAMAT DATANG

Adalah kata-kata yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk dan keluar dari diri kita.
Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk menyebrang ke tempat lain.
Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian.
Berbicara, kita mengobati rasa sakit.
Berbicara, kita membangun persahabatan dengan yang lain.
Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam.
Kita menggunakan kata-kata untuk memperbarui diri kita.
Inilah senjata kita saudara-saudaraku.
(Sub Commandante Marcos, 12 Oktober 1995)

TENTANG

Foto saya
Ruhut Ambarita
Lahir di Jakarta. Tinggal dan besar juga di Jakarta, namun suka melancong ke luar Jakarta. Suka minum teh ketimbang air mineral.
Lihat profil lengkapku

ARSIP

  • ►  2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
  • ►  2011 (4)
    • ►  Juni 2011 (1)
    • ►  April 2011 (1)
    • ►  Maret 2011 (2)
  • ►  2010 (10)
    • ►  Desember 2010 (1)
    • ►  November 2010 (9)
  • ▼  2009 (4)
    • ▼  Agustus 2009 (1)
      • Bagi-bagi Kekuasaan
    • ►  Mei 2009 (1)
    • ►  April 2009 (1)
    • ►  Maret 2009 (1)
  • ►  2008 (15)
    • ►  November 2008 (1)
    • ►  Agustus 2008 (2)
    • ►  Juli 2008 (3)
    • ►  Juni 2008 (7)
    • ►  Mei 2008 (2)

POTRET

POTRET
Wasior, Mentawai, Merapi, di hati, tak lebih sehari! Kenangan Wasior belum hilang. Masih lagi Merapi, Mentawai. "Baru kemarin kita kebanjiran di Jakarta," kata pejalan kaki, menunggu kereta. Masyarakat menunggu parlemen kerja, pulang melawat luar negeri. Ke Yunani, katanya. "Tsunami itu risiko tinggal di kepulauan," ujar Ketua Parlemen RI. Kakinya tak menapak Mentawai, tapi suaranya serupa dawai. Tragis. Kalau soempah pemoeda masih disini, 1928-2010 itu dekat, hanya 82 tahun. Kalaulah soempah pemoeda masih disini, tanah Merapi serupa tanah Bekasi, tanah Wasior persis tanah di Bogor. Mentawai, bukan hanya pulau. Mentawai, sarana detektor balai teknologi survei kelautan. Mentawai, bukan hanya pulau. Mentawai, di hati, bantuan tak lebih sehari. Tapi pilu itu masih ada. Tangis itu membahana. Angka korban bukan statistik saja. Malam yang durjana, lahar yang meleleh esok hari, terjangan air yang terjadi kemarin dan hari ini masih mengisi lembar-lembar suratmu, televisimu, radiomu, intemetmu. (Teks oleh Sihar Ramses Simatupang/Sinar Harapan; Ilustrasi foto Reuters)

KLIK!

  • Bahasa Kita
  • Committee of Concerned Journalists
  • Committee to Protect Journalists
  • Glosarium
  • Indymedia International
  • Jakarta Sosialita
  • Kabar dari Pijar
  • Kamus Bahasa Indonesia
  • Learning English I
  • Learning English II
  • New Youth - YFIS
  • Quotations Page
  • Reporters Without Borders
  • Voice of Human Rights

KABAR DARI

  • Aditya Panji Rahmanto
  • Airlambang
  • Andreas Harsono
  • Ario Adityo
  • Mamik - Sutarmi
  • Noam Chomsky
  • Rahmad Nasution
  • Siswanto
  • Titiek Indrias
  • Umar Said
Tema Jendela Gambar. Gambar tema oleh sndr. Diberdayakan oleh Blogger.