31 Mei 2008

Devide et Impera ala Menir JK


"Bilangin sama yang marah-marah itu lebih enak begini daripada BBM murah" ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada para penerima bantuan langsung tunai atau BLT Tahap I di Kantor Pos Sumur Batu, Jakarta, 24 Mei lalu.

Pernyataan Kalla ini disampaikan dengan tujuan agar mereka, para penerima BLT, mengatakan kepada para demonstran yang menolak kenaikkan harga BBM bahwa lebih enak harga BBM naik dan menerima BLT yang hanya sebesar Rp. 100 ribu per bulan. Hah!

Kita ketahui, demonstrasi, terutama dari kalangan mahasiswa, menolak kenaikkan harga BBM saat ini sedang gencar-gencarnya digelar. Hampir setiap hari, rumah presiden selalu "dikunjungi" rakyat dan mahasiswa. Namun sayang, sang tuan rumah sedang tidak menerima tamu?. Di daerah, kawan-kawan pun tak ketinggalan bersuara keras menentang keputusan pemerintah menaikkan harga BBM.

Pernyataan Daeng "Kumis" ini langsung mendapat reaksi luas dari pelbagai kalangan. Mmhh.. Bukan kali ini saja statement-statement yang keluar dari mulut Sang Saudagar dari Timur ini memancing kemarahan rakyat dan mahasiswa. Bahkan Sang Bos, Presiden SBY, pun dikabarkan pernah dibuat 'tersulut' atas ulah bawahannya ini.

Wajar saja jika rakyat terutama mahasiswa tambah 'keras' dalam setiap langkah-langkahnya mendesak presiden membatalkan kenaikan harga BBM. Ada aksi dan ada reaksi. Itu "teori" sederhana untuk menggambarkan situasi di tanah air akhir-akhir ini.

Kelihaian Menir Kalla "memanaskan sesuatu" di saat-saat yang sedang "panas" tak lagi diragukan. Mungkin ini salah satu skill yang dimilikinya, selain membangun kerajaan bisnis di Indonesia.

Namun demikian, pernyataan Ketua Umum Partai Golkar ini sangat menyesatkan dan merupakan suatu bentuk pembodohan serta pembohongan terhadap rakyat. Dimana enaknya menikmati kenaikan harga BBM sementara pendapatan rakyat terus menurun, stagnan atau bahkan NOL? Dan, apa gunanya uang yang hanya seratus ribu rupiah per bulan? Lha, harga-harga saja sudah pasti naik setelah itu (kenaikan harga BBM).

Sangat jelas ini adalah upaya mengadu domba antara rakyat dan mahasiswa. Devide et impera, bahasa kerennya. Menir Kalla berusaha untuk memecah-belah kekuatan rakyat dan mahasiswa yang bersatu menolak kenaikkan harga BBM. Politik adu domba pun dimainkan.

Tidak ada komentar: