Pagi hampir siang, sekitar jam 10, aku berkumpul dengan kawan-kawan sewaktu di SMA. Kami janji bertemu di McDonalds. Arindo, seorang kawan, sejak semalam sudah memberitahukan rencana pertemuan ini kepadaku melalui SMS.Siang tadi, kami berkumpul untuk memastikan rencana bermain sepakbola futsal esok hari. Rencana itu diusulkan Lito saat kami berkumpul di pesta pernikahan Citra, teman kami di SMA, beberapa waktu lalu.
Aku tiba paling akhir: sekitar jam 11. Di sana, sudah kumpul Arindo, Lito, Tennov, Donal dan Christian. Sebelum bercakap-cakap, aku terlebih dahulu memesan minuman. Satu gelas coca-cola ukuran kecil. 5 ribu perak harganya.
Setelah tiba di tempat duduk, mereka lalu bertanya kepadaku, apakah besok pagi, hari Sabtu, aku bisa ikut bermain futsal.
Semalam, aku memang belum memberikan kepastian apakah aku ikut atau tidak ikut bermain futsal, karena besok siang aku ingin mengambil hasil editing video acara kematian Tulang Udut (tulang berarti paman dalam bahasa Indonesia), yang meninggal dunia hari Sabtu pekan lalu. Sedangkan sorenya, aku berencana datang ke acara pernikahan Dani, kawan aktivis LS-ADI, kini ketua Koalisi Anti Utang.
Sekitar sejam kami berada di McDonalds. Tak terasa, matahari sudah tepat berada di atas kepala kami. Keputusan juga sudah ada. Besok, jam sembilan pagi kami main futsal. Tennov kemudian mengajak makan siang. Tetapi tidak di McDonalds, melainkan di Warteg alias Warung Tegal.
"Lapar nih. Yuk, kita makan siang. Di warteg aja. Murah meriah," ujarnya.
"Dimana the warteg yang enak dekat sini," tanyanya kepadaku karena aku pernah bersekolah di daerah sana. Oh ya, kawan-kawan SMA memanggilku uthe. Nama panggilan itu memang diberikan saat di SMA oleh Malvina. Katanya, nama asliku beda-beda tipis dengan nama panggilan penyanyi Ruth Sahanaya, yang juga dipanggil uthe.
Akhirnya, kami pun pergi meninggalkan "Paman Ronald" menuju "Bu'de Sartiyem". Sebuah hal yang cukup kontras pikirku. Tapi tak masalah. Lebih murah makan di Warteg ketimbang di McDonalds. Warteg lebih variatif dan sehat, menurutku. Lagipula, perut kami ini perut kampung, lidah kami, ya, lidah ndeso.
"Tempat ini strategis untuk bertemu. Soalnya dekat dan biar gampang booking ke tempat futsal," ujar Arindo yang memilih McDonalds sebagai titik temu, beralasan. Letaknya sendiri memang strategis: berada di perempatan lampu merah.
Sebelum menuju Warteg, kami mampir sebentar di rumah Tigor, teman kami juga di SMA. Bersama dia, kami lalu "menyerbu" Warteg. Usai makan, kami pun langsung kembali "mengepung" rumah makan lain. Bukan untuk makan lagi tapi untuk membeli jus. Siang tadi panas sekali.
Tigor lalu mengajak kami ke berkunjung "rumah" keduanya. Letaknya tidak jauh dari rumah orang tuanya. Sekitar 50 meter. Rumah ini khusus ia sewa untuk ia jadikan tempat berkarya. Menghasilkan karya lukisan-lukisannya.
Tigor, salah seorang kawan kami ini, alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Cita-citanya sejak awal memang menjadi seorang pelukis. Ia memiliki talenta melukis yang sangat kuat. Dulu, saat di kelas ia rajin sekali melukis. Apa saja ia lukis. Dan, gambar-gambarnya sangat bagus. Tapi, dia bukanlah seorang pelukis muda "biasa". Dia seorang pelukis tuna wicara dan tuna rungu.
Rumah tersebut tidak begitu luas dan lebar, namun terasa teduh. Terbagi tiga ruangan. Di ruang depan tergeletak sebuah tempat tidur kecil dan lemari plastik. Ruang tengah ia gunakan untuk menaruh "alat-alat tempur", berikut hasil karyanya. Lalu, di ruang belakang dapur dan kamar mandi.
"Satu juta per bulan," katanya menyebut harga sewa rumah sepetak itu.
Togor, begitu biasa kusapa, lalu bercerita dan memperlihatkan kepada kami beberapa lukisan yang masih tergeletak terbungkus kertas coklat di "bengkelnya" itu. Saya sempat bertanya, kenapa lukisan-lukisan ini tidak ia jual saja ke kurator atau toko lukisan.
"Saya pernah tanya ke toko berapa harga lukisan ini. Dia hanya menawarnya 100 ribu," katanya sembari menunjukkan lukisan bergambar kembang dengan beberapa goresan warna.
Ah, yang benar saja abang toko itu hanya "menghargai" lukisan kawan saya ini hanya dengan selembar seratus ribu. Seingatku saja, beberapa tahun lalu saat ia masih kuliah sebuah lukisan karyanya pernah dibeli oleh seorang kurator seharga 500 ribu Rupiah.
Lukisan yang menggambarkan pemandangan gunung dan arwah-arwah manusia itu ia beri judul: Menunggu Awan Harapan. Aku sendiri belum memahami apa maksud dan makna di balik lukisan tersebut (menggabungkan pemandangan dan arwah dalam satu lukisan).
Melihat hasil-hasil karyanya, aku pun terdorong memintanya untuk melukis kami satu per satu. Dia sempat menolak. Alasannya capek. Mungkin karena " proyek" gratisan, he..he.. Namun, setelah kami sedikit "memaksanya" akhirnya ia mau melukis kami. Lukisan karikatur.
Satu per satu secara bergantian kami pun langsung pasang aksi, pasang gaya. Tigor cekatan menorehkan tinta di sebuah kertas putih. Tidak di atas kanvas. Christian pertama kali digambar. Lalu, Tennov pasang aksi, pasang gaya, mengikuti pose terkenal dari pemain sepak bola David Beckham.
Selanjutnya, secara berurutan aku sendiri, Donald, Arindo dan terakhir Lito. Sebagian dari kami cukup puas dengan lukisan karikatur tersebut, sebagian lainnya tidak. Ya, namanya juga gratisan.
Kemudian, setelah gambar karikatur itu selesai dibuat satu per satu dari kami membubuhkan tandatangan di bawah gambar karikatur kami masing-masing. Tennov berencana membawa pulang gambar karikatur itu. "Untuk di pajang di kamar gue," katanya sambil melipat kertas itu. Tapi, kata Tigor tidak usah dibawa, "Biar dipigura."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar