08 Juni 2008

Bang Barry dan Paman Sam


Selasa (3/6) malam lalu atau Rabu waktu Indonesia, arena Hoki di St. Paul, Minnesota, Amerika Serikat, bergema oleh teriak gemuruh sekitar 30 ribu orang yang memenuhi tempat itu untuk merayakan "kemenangan" calon presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama.

Senator asal negara bagian Illinois ini mendulang suara terbanyak dari para delegasi super yang berakhir di dua kota, Montana dan South Dakota. Obama mendapat 2.156 suara sedangkan Hillary Rodham Clinton, pesaingnya di Partai Demokrat, memperoleh 1.993 suara.

"Amerika, inilah saat kita. Ini adalah waktu kita. Waktu kita untuk berpaling dari kebijakan-kebijakan masa lalu ........ Saat kita untuk memberikan satu arahan baru bagi negara yang kita cintai," kata Obama di hadapan para pendukungnya malam itu.

Ya, "kemenangan" Obama ini akhirnya menjadikannya sebagai Capres resmi dari Partai Demokrat yang akan melawan Capres dari Partai Republik, senator asal Arizona John McCain, dalam pemilu AS mendatang.

Sejak memproklamirkan niatnya untuk menjadi Presiden AS, Obama langsung menjadi pusat perhatian diantara Capres-capres lainnya, baik dari Partai Demokrat dan Partai Republik. Tidak hanya rakyat AS, para pengamat dan masyarakat internasional pun turut mengamati Capres AS pertama berkulit gelap ini.

Bukan hanya karena soal perbedaan fisik yang membuatnya mendapat tempat "lebih" di mata dunia, terutama dari rakyat AS, ketimbang Capres-capres lainnya dari Partai Demokrat dan Partai Republik. Tetapi, yang utama adalah janji perubahan yang dihembuskan dalam kampanyenya.

Change. We Can Believe In. Begitu slogannya.

Sosok Obama yang meluncur ke pentas politik nasional AS tidak hanya mewabah di negara Paman Sam saja, tetapi juga menyebar hingga ke banyak negara. Jepang dan Indonesia, misalnya.

Masyarakat di kota Obama, sebuah kota kecil yang terletak di bagian Barat Jepang ini, turut terjangkit "virus" Obama, Capres AS dari Partai Demokrat yang tengah berebut kursi Presiden AS ke-44 itu. Kota "Obama" yang bertepian pantai ini penuh dihiasi dengan gambar Obama. Mulai dari souvenir, t-shirt hingga sumpit.

Indonesia tak turut ketinggalan. Meski tidak "segila" kota Obama, di Jakarta Obama fans club dibentuk awal Maret lalu oleh sejumlah kawan lama Obama ketika bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 01, Jl. Besuki, Menteng, Jakarta Pusat, di tahun 1972. Dulu, kawan bule satu ini mereka panggil Barry.

Ya. Itulah Obama, dengan "virusnya" yang tengah menjangkiti rakyat AS dan masyarakat internasional, walaupun tak keseluruhan.

Namun demikian, dibalik "kemenangan" Obama yang datang dari perbedaan warna kulit, "mantra" pidato yang, katanya, telah membuat rakyat AS terhipnotis dan perubahan yang dijanjikannya, ada hal lain yang lebih penting yang juga perlu dicermati.

Apakah nantinya jika Obama menang dalam Pemilu AS mendatang dan akhirnya menjadi Presiden AS ke-44, kebijakan AS, terutama kebijakan luar negeri AS akan berubah di tangannya? Meskipun dalam setiap pidatonya, bahkan pidato "kemenangan" di St. Paul kemarin, menyampaikan kata "perubahan".

Menurut saya, kebijakan AS, terutama kebijakan luar negerinya belum tentu berubah meskipun berada di tangan Obama. Bagaimana pun, watak dari pemerintah AS yang salah satunya doyan menaruh "taring" di negara lain sudah berurat akar. Mungkin sudah terpatri di hampir kebanyakan para pejabat dan politisi AS.

Walaupun, Obama saat ini terlihat di mata publik sebagai satu-satunya Capres AS dalam pemilu kali ini yang berasal dari kalangan minoritas di masyarakat AS, atau bahkan dapat "akrab" dengan "musuh-musuh" AS selama ini, tetap saja bagi saya itu belum bisa dijadikan jaminan akan lahirnya perubahan atas arah kebijakan AS, terutama kebijakan luar negerinya, di masa kepemimpinan Obama nantinya jika terpilih.

Mau dan beranikah Obama, jika nantinya terpilih menjadi Presiden AS menarik seluruh pasukan AS yang dikirim oleh Presiden George W. Bush menginvasi Afghanistan dan Irak? Dan, Obama mau mengembalikan seluruh aset-aset dari negara lain yang dirampas dihisap (hingga saat ini) oleh pemimpin-pemimpin AS sebelumnya atas kendali para "drakula" kapitalis?

Dua hal ini pun belum tentu mau dan berani dilakukan Obama. Sampai sekarang hanya ada dua kekuatan besar di dunia yang membuat AS paranoid yaitu komunis dan Islam. AS memusuhi keduanya dan selama ini getol menghancurkannya. Pascasoviet, sekarang ini hanya Islam kekuatan yang mampu membuat AS "panas-dingin".

Kita, masyarakat internasional, tidak peduli siapa orangnya dan darimana asalnya. Siapa pun presidennya jika antiHAM dan antidemokrasi, lawan!

Tidak ada komentar: