Mantan Presiden Ceko Vaclav Havel dan Wakil PM Alexandr Vondra bersama dengan ratusan orang berkumpul di pusat kota Praha, Ibu Kota Republik Ceko, untuk merayakan ulang tahun ke -63, ikon prodemokrasi Burma, Aung San Suu Kyi, Kamis (19/6). Perayaan seperti ini secara bersamaan juga digelar, diantaranya di New York, London, Tokyo, Korea Selatan, dan Taiwan.
63 tahun lalu, tepatnya Selasa, 19 Juni 1945, di Rangoon, Ibukota Burma, lahir seorang bayi perempuan cantik dari pasangan Aung San dan Ma Khin Kyi atau belakangan lebih dikenal Daw Khin Kyi.Aung San adalah seorang Komandan Tentara Kemerdekaan Burma berpangkat Jendral yang kemudian menjadi Pemimpin Nasional Burma. Sedangkan Khin Kyi merupakan perawat senior di Rumah Sakit Rangoon.
Daw Aung San Suu Kyi, itulah nama yang diberikan kepada bayi itu.
Masa kecil dan remaja Suu Kyi --begitu ia disapa--, tidak seluruhnya dijalani di Burma. Tahun 1960, saat dirinya berusia 15 tahun, Suu Kyi remaja meninggalkan tanah kelahirannya menuju Delhi, India, untuk mengikuti Ibunya yang diangkat menjadi Duta Besar Burma untuk India.
Empat tahun kemudian, Suu Kyi yang telah tumbuh menjadi pemudi memutuskan terbang ke Inggris untuk kuliah di St. Hugh's College, Oxford University, Inggris. Di sana ia mengambil studi Politik dan Ekonomi. Gelar Bachelor of Art (BA) pun ia raih hanya dalam waktu dua tahun (1964-1967).
Di tahun 1969 atau dua tahun setelah menyelesaikan kuliahnya, Suu Kyi mulai bekerja sebagai seorang Penasehat Komite di kantor pusat United Nations atau Perserikatan Bangsa Bangsa di New York, Amerika Serikat.
Saat kuliah, kisah cinta Suu Kyi pun bersemi. Michael Vaillancourt Aris, seorang pemuda Inggris bergelar Ph.D atau Doktor yang bertemu dan dikenalnya saat kuliah dahulu menikahinya di tahun 1972. Dari pernikahan mereka kemudian melahirkan dua orang anak yaitu, Alexander (1973) dan Kim (1977). Keduanya lahir di Inggris.
20 tahun hidup di negeri seberang membuatnya rindu dengan tanah kelahiran. Maret 1988, bersama suami dan kedua anaknya ia pun kembali ke Burma. Namun, saat itu situasi politik di Burma tengah bergejolak karena gerakan prodemokrasi yang terdiri dari rakyat, pelajar dan mahasiswa Burma turun ke jalan meneriakkan antirezim junta militer di bawah pimpinan Jendral Ne Win.
8 Agustus 1988, rezim junta militer pimpinan Jendral Ne Win "membungkam" protes para demonstran dengan cara kekerasan. Jutaan orang tewas terbunuh. Peristiwa berdarah ini kemudian dikenang sebagai Tragedi 8888.
Kondisi penindasan dan pemiskinan serta kemudian ditambah lagi dengan peristiwa pembantaian massal terhadap rakyat Burma oleh rezim junta militer yang dilihat Suu Kyi langsung mengusik hatinya sebagai seorang anak bangsa. Itulah yang akhirnya kemudian ia bertekad untuk melakukan perubahan di Burma.
Bulan September di tahun yang sama, The National League for Democratic (NLD) didirikan, dimana ia menjabat sebagai sekretaris jendral. Sejak saat itu, sebagai seorang pimpinan partai ia pun "Turba" alias "turun ke bawah" memulai pengorganisiran dan menjalankan pendidikan politik rakyat. Tidak hanya itu, ia pun menyerukan demokrasi dan pemilu yang bebas.
Meski Jendral Ne Win menjalankan pemerintahan junta militernya dengan represif, namun Suu Kyi tak mau melawan rezim dengan cara kekerasan, meski hal itu bisa saja ia lakukan karena seluruh rakyat Burma sudah berada di belakangnya.
Ahimsa. Itulah metode perjuangan tanpa kekerasan yang ia lakukan, yang terinspirasi dari tokoh India Mahatma Gandhi dan pejuang HAM di AS, Martin Luther King.
Sepak terjangnya telah merebut hati seluruh hati rakyat Burma. Hal itu dibuktikan dengan kemenangan besar Partai NLD dalam pemilu Burma pada bulan Mei di tahun 1990. 82 persen kursi di parlemen diraih oleh NLD.
Namun, rezim junta militer tidak mau terima kemenangan Partai NLD dalam pemilu. Rezim junta militer menganulir kemenangan Partai NLD dan Jendral Ne Win memerintahkan penangkapan terhadap seluruh pengurus dan anggota Partai NLD, terutama terhadap Aung San Suu Kyi yang dianggap sebagai "biang keladi".
Sejak tahun 1991, rezim junta militer menahan Suu Kyi dalam rumah tahanan. Hal itu dilakukan rezim junta militer guna melemahkan dukungan rakyat Burma dan masyarakat internasional kepada Suu Kyi. Meski kebebasannya dikekang, Suu Kyi tetap bisa menyampaikan "pesan" demokrasi dan meneruskan perjuangannya ke luar dari balik penjara.
Dalam ketertindasannya dan rakyat Burma, Suu Kyi pun menerima the 1990 Rafto Human Rights Prize (12 Oktober), the 1990 Sakharov Prize dari Parlemen Eropa (10 Juli), dan Nobel Perdamaian (14 Oktober), atas perjuangan demokrasi dan HAM yang ia lakukan di Burma.
Meski sempat dibebaskan walau kemudian dipenjarakan kembali oleh junta militer --bahkan hingga saat ini--, Suu Kyi tetap tidak bisa bebas melakukan aktivitas di tanah air sendiri. Setiap langkahnya selalu dicurigai dan dibatasi oleh rezim junta militer.
Begitupun saat suaminya, Michael Aris, yang sejak tahun 1995 tidak pernah lagi ditemuinya karena dilarang oleh rezim junta militer, meninggal pada Maret 1999 lalu karena mengidap kanker prostat. Kalau pun, Suu Kyi memaksa untuk pergi ke Inggris --tempat suami dan kedua anaknya tinggal-- sudah dapat dipastikan ia tidak akan dapat kembali ke Burma, tanah air yang sangat dicintainya.
Penderitaan yang dirasakan, disadari olehnya memang adalah sebuah konsekuensi dari sebuah keyakinan atas perjuangan menegakkan demokrasi dan hak asasi manusia. Begitupun dengan ratusan orang yang hingga saat ini masih berada di dalam penjara-penjara negara sebagai tahanan dan narapidana politik.
Setiap perjuangan pasti ada sebuah pesan di dalamnya. Begitu pun dengan perjuangan yang dilakukan oleh Aung San Suu Kyi dan seluruh rakyat Burma, yaitu bahwa rakyat Burma sudah tidak tahan hidup di bawah kepemimpinan rezim junta militer saat ini. Hidup dalam pemiskinan, penghisapan dan penindasan oleh negara. Para pejabat pemerintahan kaya raya dan rakyatnya hidup dalam penderitaan.
Selamat ulang tahun, Aunty Suu. Keep on fighting for democracy!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar