Hari ini, "sarapan" pagiku menonton program berita TV Liputan6 Pagi. Sufiani Tanjung, reporter Liputan6 SCTV, sedang melaporkan langsung situasi di Markas Front Pembela Islam (FPI) di Jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pascaultimatum Polda Metro Jaya terhadap organisasi ini, Selasa (3/6/2008) malam.Kemarin, Kapolda Metro Jaya Irjen Adang Firman memberikan batas waktu kepada organisasi ini agar sepuluh orang anggota FPI (sementara ini) yang terlibat dalam penyerangan massa FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) menyerahkan diri ke polisi.
Kesepuluh orang anggota FPI ini akan ditahan polisi terkait aksi brutal yang dilakukan FPI menyerang para peserta Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) yang tengah menggelar demonstrasi di Monas, Jakarta, Pusat, Minggu (1/6/2008) kemarin.
AKK-BB sendiri adalah aliansi yang terdiri dari tokoh nasional, pemuka lintas agama, aktivis keagamaan dan aktivis HAM dan prodemokrasi yang menyerukan dan menuntut negara agar menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia.
Sepak terjang FPI di Indonesia selama ini selalu meresahkan masyarakat. Dengan atas nama agama, mereka melakukan aksi atau tindakan kekerasan kepada setiap orang maupun kelompok yang mereka nilai bertentangan dengan Aqidah atau ajaran Islam. Ya, paling "lunak" hanya dituduh atau dicap "kafir" oleh mereka.
Memaksakan kehendak mereka terhadap orang lain. Itulah kesan yang timbul dari para milisi asal Tanah Abang ini. Kenapa saya menyebut mereka "milisi" dari Tanah Abang?
Untuk awal, saya coba mengutip arti "milisi" dari Wikipedia. "Milisi" adalah suatu kelompok penduduk sipil yang diorganisasikan untuk membentuk suatu jasa paramiliter. Sedangkan, "paramiliter" adalah kelompok penduduk sipil yang dilatih dan diorganisasikan secara militer. Ya, sederhananya militerisasi sipil, lah.
Milisi atau paramiliter merupakan unit komando yang dibentuk oleh negara dan ditujukan untuk menjalankan "misi" pertempuran non-tradisional yang beroperasi di luar kendali resmi militer.
Kalau kita pernah menonton film "Hotel Rwanda" yang menceritakan kembali situasi perang di Rwanda, Afrika bagian tengah, di tahun '90-an kita akan melihat "aksi-aksi" para milisi atau paramiliter, baik dari suku Huttu dan Tutsi, yang bertindak kejam dan brutal membunuh siapa saja yang dianggap oleh "Tuan" mereka adalah musuh.
Keberadaan dan aksi milisi atau paramiliter tidak hanya ada dan terjadi di Rwanda atau di sejumlah negara yang pernah dan sedang dirundung perang saja. Di Indonesia, tempat kita tinggal saat ini pun ada dan terjadi, bahkan hingga sekarang ini.
Di bulan Mei 1998, saat gelombang besar demonstrasi rakyat dan mahasiswa menuntut Soeharto mundur semakin membesar, kelompok-kelompok milisi atau paramiliter dibentuk.
Mereka dinamai Pamswakarsa (Pengamanan Swadaya Masyarakat). Dengan dipersenjatai bambu, kayu dan "alat-alat" perang lainnya mereka muncul di jalan-jalan di Jakarta dan sekitarnya. Perintahnya satu: "amankan" jakarta.
Keberadaan FPI atau "milisi" dari Tanah Abang ini sendiri di Indonesia sudah ada sejak sepuluh tahun yang lalu. Tepatnya, 17 Agustus 1998 organisasi FPI dideklarasikan di Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, Tangerang oleh sejumlah habib, ulama dan mubaligh.
FPI lahir tak lama setelah rezim diktator Soeharto ditumbangkan. Hampir bersamaan kemudian lahir juga sejumlah organisasi antara lain seperti Forum Betawi Rempuq (FBR), yang kita kenal "gaya" bertindaknya beda-beda tipis dengan FPI.
Hingga saat ini belum terungkap siapa "Tuan" dari para milisi atau paramiliter di Indonesia. Namun, saat saya berbincang dengan sejumlah kawan aktivis mereka bercerita dan memberikan "pencerahan" kepada saya mengenai keberadaan milisi atau paramiliter di Indonesia.
"Pamswakarsa itu dulu dibentuk dan disebar ke jalan untuk menghantam gelombang demonstrasi yang menuntut Soeharto mundur," ujar seorang kawan.
"Dibelakang mereka itu Jendral," kata kawan lainnya menyambung sambil seraya menambahkan bahwa dari pola dan tindakan yang mereka lakukan seperti orang-orang yang sudah dilatih dan diorganisir dengan baik.
"Sekarang coba lo pikir siapa yang paling terlatih dan terorganisir di dunia ini kalau bukan tentara (militer)," katanya dengan penuh keyakinan.
Nah, kelompok milisi atau paramiliter "tenar" yang ada sekarang ini di Indonesia, seperti FPI, FBR, Pemuda Pancasila dan Pemuda Panca Marga, bukan tidak mungkin diorganisir dan dilatih oleh militer. Dan, bahkan mungkin dibalik mereka ada Jendral atau mantan Jendral!
Lihat saja setiap aksi ataupun sepak terjang mereka yang selalu membawa "alat-alat" tempur. Ya, kalau tentara membawa senjata, mereka pun membawa "senjata" seperti kayu, bambu atau bahkan senjata tajam dalam setiap "pertempuran".
Di dalam organisasi milisi atau paramiliter seperti FPI pun memiliki unit militer yang dinamakan Laskar Pembela Islam. Dari cara berpakaian pun bergaya tentara. Lihat saja Pemuda Pancasila dan Pemuda Panca Marga. Mulai dari sepatu, seragam dan baret kaya tentara.
Yang membuat semakin mengerikan ialah kini anak-anak muda di Jakarta tengah dilanda army style, he..he.. (kalau ini perbuatan "dosa" kapitalis!). Waduh, semakin banyak saja kelompok milisi dan paramiliter di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar