16 Juni 2008

Mati Lampu dan Ahmadiyah

"Ma, listrik udah hidup ya," tanyaku pada Mama yang sedang membaca koran di depan pintu rumah.

"Ya sudah," jawabnya singkat.

Ahh.. akhirnya listrik hidup kembali, gumam saya. Saya pun kembali dapat hidup, he..he.. Sejak pagi tadi listrik di rumah dan di sekitar tempat tinggal saya memang padam. Listrik baru kembali menyala sekitar jam 12.30 Wib, setelah sekitar lima jam lamanya dipadamkan PLN.

Padamnya listrik sejak tadi pagi memang membuatku benar-benar bingung mau melakukan apa. Dasar anak kota, ha..ha.. Hanya koran yang kupegang sejak pagi tadi. Itu pun, dari serentetan berita yang tersaji di koran hari ini hanya beberapa saja yang kubaca, selebihnya tidak.

Padamnya lampu hari ini memang bukan kali pertama. Ini sudah kesekian kalinya terjadi, menurut Mama saya, yang memang lebih sering di rumah ketimbang anggota keluarga lainnya.

Keluargaku memang bukan satu-satunya "korban" PLN. Masih ada jutaan bahkan puluhan juta keluarga Indonesia lainnya yang juga menjadi "korban" PLN, walaupun sudah berusaha menjadi pelanggan setia PLN yang taat membayar tagihan tepat waktu dan melakukan saran PLN untuk berhemat listrik.

Aku pun tak mau berlama-lama mengeluh dan menggerutu terhadap kinerja PLN, seperti yang biasa dilakukan Mama atau kebanyakan orang ketika listrik padam. Lebih baik langsung demonstrasi ke kantor pusat PLN atau kalau perlu boikot aset-aset PLN sekalian.

Aku pun langsung menuju meja komputer. Dazz.. sekitar 10 menit kemudian komputer pun menyala dan langsung terkoneksi. Memang agak sedikit lama kutunggu. Ya, maklum lah umur komputer ini sudah tahunan, he..he..

Tanganku langsung bergerak di atas papan ketik komputer (keyboard) memerintahkan "sahabatku" ini agar terkoneksi ke YahooMail. Setelah terbuka, kulihat di dalam Inbox hanya baru ada dua pesan elektronik saja yang masuk, yaitu dari milis MediaCare dan kantor berita Antara, yang isinya berita-berita pilihan dari dalam negeri maupun mancanegara.

Setelah melihat e-mail Antara, selanjutnya aku membuka e-mail dari milis MediaCare. Sejumlah postingan di milis yang tersaji masih sama seperti kemarin. Bosan karena tidak ada postingan baru yang ditampilkan.

Namun, sebelum menutup e-mail dari MediaCare Mouse kuarahkan ke bawah. Ahh.. ternyata ada postingan yang belum kubaca rupanya. Judulnya cukup menarik perhatianku: Ormas Islam, Polisi & Wartawan Terlibat Penganiayaan Ahmadiyah?, yang diposting oleh wirajhana_eka, hari Minggu kemarin jam 15.48 Wib.

Di dalam postingan itu tertulis, "ternyata benar polisi di barisan depan mengawal penganiaya. Ternyata benar, wartawan kita berhasil ditakuti-takuti dan ini bukti kebebasan pers sudah hilang dari bumi Indonesia." Kemudian, sebagai penguat tulisan si penulis posting tersebut mengajak pembaca untuk menonton tayangan video yang diposting di YouTube.

Saya pun penasaran ingin melihatnya. Setelah kubuka, muncul lah tayangan yang dimaksud si penulis posting tadi. Judulnya: Penganiayaan Terhadap Jamaat Ahmadiyah di Indonesia #3, dengan durasi 07 menit 36 detik yang diposting dengan nickname danialanwar pada 12 Februari 2008.

Pada awal tayangan, seorang narator bercerita tentang Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), khususnya di Kabupaten Bogor, yang meminta perlindungan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, Jawa Barat, khususnya kepada aparat kepolisian, karena merasa terancam oleh aksi-aksi segerombolan orang yang mengancam akan melakukan tindakan-tindakan keras terhadap jemaat Ahmadiyah.

Namun ironisnya, dikatakan narator, Pemkab Bogor yang seharus melindungi setiap warganya dari segala ancaman justru menerbitkan Surat Pernyataan Bersama, yang ditanda tangani oleh seluruh jajaran Pemkab Bogor, yang berisi larangan JAI melakukan kegiatan di seluruh Kabupaten Bogor.

VT atau video tape saat narasi itu berlangsung memperlihatkan Surat Pernyataan Bersama itu ditempel bersama dengan garis polisi (police line) di pagar Kompleks Kampus Mubarak, markas pusat JAI di Bogor. Dan, selanjutnya pada VT itu terlihat belasan aparat Trantib atau Pamong Praja Kabupaten Bogor merobohkan papan nama JAI. Cuplikan tayangan ini sepertinya milik salah satu stasiun TV yang diambil pada 15 Juli 2005.

Selanjutnya, pada tayangan ini terlihat dan terdengar seorang pengurus JAI sedang beradu argumentasi dengan salah seorang pejabat Pemkab Bogor yang memaksa keluar seluruh warga JAI dari Komplek Kampus Mubarak.

"......... aparat (seharusnya) negara tahu menempatkan porsi. Ini, kan, rumah kami. Jadi bagaimana mungkin kami mengosongkan rumah kami," ujar pengurus JAI dari balik pagar yang tertutup kepada pejabat Pemkab Bogor itu. Keduanya sama-sama mengenakan peci hitam.

"Kami minta dilindungi. Ini rumah kami," katanya lebih lanjut kepada pejabat itu.

Namun sangat disesalkan, seorang pejabat Pemkab Bogor itu menjawabnya dengan, "Bapak tahu suasana di luar sudah seperti apa?" katanya sambil menunjuk ke arah gerombolan orang yang siap menyerbu "rumah" warga JAI.

"Kami sudah menyatakan, kami tidak sanggup mengamankan Bapak di dalam sini. Artinya, Bapak (dan warga JAI) harus segera keluar" kata pejabat itu lebih lanjut dengan nada tinggi.

Melihat tayangan dan mendengar pernyataan pejabat Pemkab Bogor dalam tayangan ini sungguh sangat memalukan. Negara (pemerintah) yang seharusnya melindungi setiap warganya tanpa terkecuali, yang merasa kehidupannya terancam oleh kelompok lain, dan berdiri netral menegakkan hukum dan keadilan di atas kedua kelompok tersebut justru berpihak kepada salah satu kelompok.

Kasus Ahmadiyah dan keberpihakan negara (pemerintah) terhadap salah satu kelompok dan bahkan cenderung ikut serta "menyerang" Ahmadiyah, menuai protes dan kecaman dari banyak tokoh nasional. Hal itu diantaranya dihadirkan dalam tayangan ini.

"Padahal Ahmadiyah sendiri itu mengaku Islam dan menjalankan syariat Islam sebagaimana yang lain-lain (umat Islam). Tapi dilarang untuk menjalankan ibadah menurut keyakinannya," kata Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau disapa Gus Dur, seperti biasa tak kalah keras melontarkan kecaman terhadap negara (pemerintah) dan kelompok-kelompok yang selalu memaksakan keinginannya melalui kekerasan agar Ahmadiyah dibubarkan.

"Saya menolak sekeras-kerasnya sikap seperti itu. Ini bukan negara Islam (tapi) negara nasional," tegas Gus Dur.

Dalam tayangan ini juga dikatakan, pemberitaan mengenai Ahmadiyah di media massa mainstream cenderung berpihak kepada segelintir kelompok yang selama ini getol menginginkan Ahmadiyah dibubarkan. Narator dalam tayangan ini juga mengatakan, diduga media massa tengah mendapat tekanan dan intimidasi dari sejumlah kelompok tersebut.

"Kepada seluruh wartawan saya ingatkan (agar wartawan tidak berpihak kepada Ahmadiyah). Saya lagi saya perhatikan, seandainya ada berita yang salah berarti wartawannya, wartawan pro-Ahmadiyah," kata Habib Abdurrahman Bin Ismail Assegaf, dengan menggunakan pengeras suara dari atas mobil pick up hitam, saat memimpin penyerbuan ke markas pusat JAI di Kompleks Kampus Mubarak, Bogor, beberapa waktu lalu.

Yang sangat disesalkan, di dalam tayangan ini terekam satu unit mobil patroli polisi lalu lintas berada di barisan paling depan massa penyerbu dan digunakan untuk membawa orang-orang yang hendak menyerbu markas pusat JAI. Bahkan, Habib Abdurrahman berorasi secara bebas di atas mobil polisi ini.

Tak berdayanya aparat polisi terhadap kelompok-kelompok penyerbu markas pusat JAI juga terlihat dalam rekaman ini.

"Tidak ada polisi yang bisa menangkap pemimpin-pemimpin kita. Kalau ada aparat menangkap komando-komando pimpinan hari ini, umat harus maju, umat harus lawan," kata seorang penyerbu yang mengatakan hal itu dari atas mobil patroli polisi.

Dalam rekaman ini juga memperlihatkan, Habib Abdurrahman sedang duduk santai sambil merokok di dalam mobil patroli polisi. Duuh..enaknya.

Padamnya lampu pada hari ini memberi tanda dan arti bagiku bahwa telah padamnya lampu keadilan dan kebebasan beragama di Indonesia, yang padam dan tak bepijar karena negara (pemerintah) tidak dapat memberikan keadilan demokrasi dan HAM kepada rakyatnya.

Tidak ada komentar: