14 November 2010

Dari Roket R-Han Hingga Sukhoi


Indonesia kembali menggelar pameran pertahanan berskala internasional, IndoDefence 2010. Kali ini, wilayah industri yang digarap diperluas, dari yang awalnya hanya industri pertahanan (defence) dan kerdigantaraan (aerospace) bertambah industri perkapalan (marine). Berharap industri pertahanan nasional dilirik para investor.

Di antara ratusan stan yang berdiri di Hall A-D Gedung JIExpo Kemayoran, stan Kementerian Pertahanan—berikut lembaga di bawah koordinasi, seperti Tentara Nasional Indonesia (yang memiliki tiga matra: AD, AL, dan AU)—cukup besar dan agak mendominasi ketimbang stan-stan lainnya.

Pameran ini diikuti 484 perusahan dari 38 negara, 17 negara di antaranya mendirikan paviliun sendiri. Indonesia pun ingin menjajakan produk-produk industri pertahanan buatan anak negeri di pasar internasional.

Saat ini, ada produk terbaru anak negeri yang baru diluncurkan 6 November lalu, yakni roket pertahanan berhulu ledak R-HAN 122 berkaliber 122 mm yang memiliki jarak tembak 11-14 kilometer. Roket yang dirintis melalui riset sejak enam tahun lalu ini pada tahap pertama akan diproduksi sebanyak 500 buah hingga tahun 2014 dan siap untuk dijual.

Bila dibandingkan dengan acara sebelumnya, para peserta pameran pada tahun ini akan bertambah. Itu karena industri yang ingin disasar pemerintah bertambah, yakni industri perkapalan (marine). Selain itu, Kementerian Pertahanan juga menargetkan pameran ini akan menyedot kurang lebih 20.000 pengunjung.

“Tahun ini tidak hanya industri kedirgantaraan saja, tetapi juga mengikutsertakan industri marine,” kata Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan, saat membacakan pidato sambutan dalam pembukaan acara. Ia menjelaskan, Pameran Indo Defense sudah digelar empat kali, sementara Indo Aerospace kali kedua dan Indo Marine untuk kali per tama.

Purnomo mengatakan, pameran pertahanan yang berlangsung selama tiga hari sejak kemarin ini akan memamerkan berbagai macam peralatan untuk pertahanan, seperti panser, rudal, kapal perang, kapal selam, hingga pesawat tempur rakitan berbagai perusahaan dari 38 negara.

Revitalisasi Industri

Purnomo menjelaskan, bersamaan dengan pameran ini, diteken sebanyak 23 kesepakatan kerja sama tentang revitalisasi industri pertahanan dengan sejumlah pihak dari dalam maupun luar negeri.

Beberapa kerja sama, antara pemerintah dengan pihak luar negeri, di antaranya adalah kontrak senilai US$ 142 juta untuk pembelian pesawat EMB 346 Super Tucano dengan Embraer, Brasil. Selain itu, pemerintah juga menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan eksportir Rusia, Rosoboronexport, terkait pembelian senjata untuk pesawat Sukhoi senilai US$ 54 juta.

Selain kerja sama pemerintah dengan perusahaan, dilakukan juga penandatangan kerja sama antara perusahan dengan pengguna, seperti kontrak dengan PT Lundin Invest Infra RCS Indonesia dalam pengadaan kapal cepat rudal Trimaran untuk TNI AL. PT Pindad, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia juga terlibat dalam sejumlah kontrak lainnya.

PT PAL, misalnya, meneken kontrak dengan China Ship Building and Offsource International Company dalam hal memajukan kemampuan dalam produksi maritim khusus untuk kapal perang. Kemudian, PT Dirgantara Indonesia bekerja sama dengan Industri Korea Aerospace Industries untuk rancang ba ngun dan produksi pesawat terbang termpur militer.

Sementara itu, Presiden Yudhoyono saat membuka acara mengatakan, dirinya berharap pameran pertahanan yang digelar oleh Kementerian Pertahanan ini dapat meningkatkan kerja sama, baik dengan pihak dalam negeri maupun luar negeri, dalam membangun industri pertahanan nasional dan industri strategis.

“Mari kita meningkatkan kerja sama industri pertahanan, baik dari aspek bisnis dan ekonomi,” katanya. Dengan kerja sama ini, diharap kan dapat menumbuhkan ekonomi di antara kedua negara yang mendasarkan pada pembangunan pertahanan. Ia juga me ngatakan, TNI harus punya kesiapsiagaan. Tentu saja perlu dibare ngi dengan pembangun an postur pertahanan yang ideal. Ini karena Indonesia turut berkepentingan untuk memastikan situasi keamanan di kawasan Asia Pasifik, terutama di Selat Malaka, damai dan stabil.

Ketika berkeliling di pa meran, Presiden Yudhoyono sempat berhenti di beberapa stan, seperti di stan Rusia. Di stand Rusia, Presiden menyempatkan diri sekitar 10 menit berbicara dengan pihak Rusia. Namun, lapisan anggota Pasukan Pengamanan Presiden dan rombongan menyebabkan obrolan itu menjadi tak terde ngar jelas. Hanya gambar dan miniatur Sukhoi yang terlihat jelas.


Sinar Harapan, 11 November 2010

Tidak ada komentar: