13 November 2010

Geliat Bisnis ”Para Bankir” di Terminal

Empat orang perempuan tengah duduk di ruang tunggu penumpang bus antar kota antar provinsi (AKAP) Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Rabu (1/9), siang kemarin. Mereka membawa tas berukuran cukup besar dengan segepok uang yang tergenggam di tangan.


Namun, mereka bukan calon pemudik yang sedang menanti bus untuk kembali pulang ke kampung halaman masing-masing untuk merayakan hari raya Lebaran. Mereka adalah para penukar uang yang menawarkan penukaran uang receh kepada para calon pemudik.

Para penukar uang receh ini menawarkan jasa penukaran uang dengan beragam nominal, mulai dari nominal Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Salah seorang penukar uang receh sempat menawarkan SH uang pecahan dengan nominal Rp 1.000 sebanyak Rp 100.000 seharga Rp 115.000.

Perempuan muda asal Nias yang enggan menyebutkan namanya itu mengatakan, harga yang ditawarkan oleh ”bank” mereka memang lebih mahal sedikit ketimbang saat kita menukarkan uang di bank resmi. Namun, ”Kami hanya mengambil untung sedikit, kok,” katanya.

Sayang, ia enggan menjelaskan lebih jauh soal keuntungannya itu. Namun, ia memastikan uang yang ditawarkan merupakan uang asli yang ditukar dari bank resmi. Saat ditunjukkan kepada SH, uang yang ditawarkan memang masih menggunakan pita resmi Bank Indonesia.

Gultom, seorang karyawan dari salah satu perusahaan bus AKAP yang telah 10 tahun bekerja di Terminal Kampung Rambutan mengatakan, keberadaan para penukar uang receh sebenarnya sudah ada sejak lama. ”Hari-hari biasa mereka juga ada di sini, tapi tak banyak” katanya.

Namun, kata Gultom, setiap menjelang hari raya Lebaran jumlah mereka yang pada hari biasa tak begitu bisa bertambah banyak. ”Bisa ratusan orang,” katanya, sambil tertawa. Sebagian besar penukar uang receh merupakan perempuan.

Hal itu dibenarkan An, salah seorang penukar uang receh, ketika berbincang dengan SH. Ia mengatakan, saat dirinya mulai bekerja pada Jumat (27/8) lalu hanya ada lima orang penukar uang receh yang beredar di Terminal Kampung Rambutan.

Namun, kata dia, hingga Rabu (1/9) kemarin jumlah penukar uang receh sudah mencapai 25 orang. ”Katanya bisa terus bertambah banyak hingga lebaran nanti,” kata An, yang mengaku baru tahun ini menjadi penukar uang receh.

Ia mengaku mendapatkan uang tersebut dari bosnya yang sudah sejak jauh hari menukarkan uang di bank, sebelum bulan Ramadan tiba. ”Kalau menukarnya sekarang-sekarang ini tak mungkin mau orang bank-lah, bang,” katanya.

An mengatakan, alasan ia menjadi penukar uang receh karena keuntungan yang dijanjikan cukup menggiurkan. Keuntungan yang ia dapat dari menjual pecahan uang receh sebesar Rp 50 ribu per hari. ”Dapat sebesar itu juga kalau sepi-sepinya,” katanya.

Sebenarnya An adalah seorang pedagang kue yang bahannya ia dapatkan dari suaminya yang bekerja di pabrik kue di daerah Jakarta Timur. Keuntungan yang ia dapat dari menjual kue padahal lebih besar daripada menjadi penukar uang receh, yakni bisa mencapai Rp 100.000 per hari.

Tapi, karena bulan puasa makanya ia beralih profesi selama bulan Ramadan menjadi penukar uang receh. Menjadi penukar uang receh, kata dia, harus lincah. Maka dari itu, An mengatakan, selain menawarkan ke calon pemudik yang berada di ruang tunggu terminal, ia juga ”mengejar” pemudik hingga ke dalam bus.

An mengaku, keuntungan yang ia dapat dari menjual jasa penukaran uang receh tidak begitu besar. Ambil contoh, dari hasil menjual uang pecahan nominal Rp 1.000 ia hanya mendapat keuntungan Rp 2.000.

Selain uang pecahan nominal Rp 1.000, ia juga menawarkan uang pecahan nominal Rp. 2.000 sebanyak Rp 200.000 dengan harga Rp 220.000, Rp. 5.000 sebanyak Rp. 500.000 dengan harga Rp 550.000, dan Rp 10.000 sebanyak Rp 1.000.000 dengan harga jual Rp 1.100.000.

Dari menjual uang pecahan Rp 2.000 dan Rp. 5.000 ia mengaku hanya mendapakan keuntungan Rp 3.000. Sementara, bila menjual uang pecahan Rp 10.000 ia bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp 30.000.

An mengatakan, sisa keuntungan yang ia dapat dari menjual setiap pecahan uang receh sebagian besar untuk bos yang menjadi pemodal. ”Lumayan untuk beli susu anak” kata ibu dari dua anak ini.


Sinar Harapan, September 2010

Tidak ada komentar: