Saat musim mudik tiba, para porter atau kuli panggul berharap bisa mendapat pendapatan lebih besar dari pemudik. Pemudik yang membawa barang banyak terbantu oleh keberadaan para kuli panggul.
Agus mengamati satu per satu setiap mobil yang masuk ke dalam Stasiun Gambir. Sebuah mobil sedan berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kemudian berjalan agak pelan menghampiri mobil tersebut. Sang penumpang turun dan membuka bagasi belakang mobil yang ia tumpangi untuk mengambil sebuah tas hitam besar.
”Mau dibantu mengangkat barang-barangnya, Pak? Tanya Agus menawarkan jasa kepada si penumpang itu yang kemudian dijawab dengan lima jari, tanda menolak bantuan jasa yang ia tawarkan. Agus pun menghentikan langkah kakinya.
Pria asal Depok ini bercerita, dirinya sudah sekitar delapan tahun menjadi kuli panggul di Stasiun Gambir. Sebelum menjadi kuli panggul, ia mengais rezeki di Depok. Seorang kerabat kemudian yang mengajaknya mencari nafkah di Stasiun Gambir sebagai kuli panggul. ”Saya dengar cari duit di Jakarta bisa dapat lebih besar,” katanya, saat berbincang dengan SH, Kamis (2/9).
Di Stasiun Gambir, kata Agus, ada 250 orang kuli panggul. Para kuli panggul ini terbagi menjadi dua kelompok, yang bekerja secara bergantian. ”Satu hari kerja, satu hari libur,” ujarnya. Saat bekerja mereka wajib memakai seragam yang disponsori sebuah perusahaan penyedia jasa telekomunikasi.
Karena saking banyaknya kuli panggul, kata Agus, ia harus bisa cekatan mengejar para penumpang untuk menawarkan jasa mengangkut barang. Terlebih, kata pria berusia 43 tahun ini, kini sudah banyak kuli panggul yang berusia 20-an tahun. Meski saling bersaing mendapatkan penumpang, kata Agus, ”Tak pernah ada yang berkelahi karena berebut penumpang di sini,” katanya.
Sementara itu, Bei, warga Bangkalan, Madura, Jawa Timur, yang sudah menjadi kuli panggul di Stasiun Senen selama lima tahun mengatakan, selama bekerja ia kerap minum jamu dan pijat selepas bekerja untuk menjaga stamina.
Di Stasiun Senen, Bei bekerja setiap hari mulai pukul 04.00 pagi hingga pukul 22.00. Selama di Jakarta, ia tinggal di stasiun yang dianggap sudah menjadi rumah kedua bagi dirinya.”Pulang ke kampung kalau Lebaran aja,” katanya.
Bei lupa berapa usianya kini. Keriput di seputar wajah memperlihatkan usianya tak lagi muda. Ketika SH menyebut angka 60, ia hanya menganggukkan kepala. ”Tapi Bapak saya di kampung sudah mencatat kapan saya lahir,” katanya.
Dibanding Agus, sepak terjang Bei di lapangan memang agak berbeda. Agus lebih cekatan dan lincah mendapatkan penumpang kereta api, sementara Bei tak begitu banyak bergerak. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik calon penumpang dari jauh.
Agus mengatakan, menjadi kuli panggul memang harus aktif menawarkan jasa angkut barang agar mendapatkan receh dari para penumpang. Tak hanya sekadar menunggu. Namun, kata Agus, tak jarang meski sudah berputar-putar di stasiun, dan bahkan berlari mengejar penumpang, tak sepeser pun duit yang ia dapat. ”Hanya dapat capek aja,” katanya.
Menurut Agus, kebanyakan para kuli panggul yang ada di Stasiun Gambir antara satu sama lain masih memiliki hubungan kekerabatan atau keluarga. Adik ipar Agus juga bekerja sebagai kuli panggul di Stasiun Gambir. ”Bahkan ada bapak dan anak yang sama-sama jadi kuli panggul di sini. Jadi, turun-temurun-lah,” katanya.
Pendapatan tak menentu
Agus mengatakan, pendapatannya menjadi seorang kuli panggul tak menentu. Jika sedang ramai penumpang, pendapatannya bisa mencapai Rp 100.000 per hari. Tapi, kalau sedang sepi penumpang paling sedikit ia hanya bisa mendapatkan uang Rp 30.000 per hari.
Sementara itu, Bei menyebut pendapatannya naik-turun. Ia sulit mengira pendapatan yang pasti dalam satu hari. Pada hari-hari biasa, ia bisa mendapatkan uang sekira Rp 50.000 per hari. Kalau sedang ramai penumpang, apalagi musim mudik seperti saat ini, pendapatannya bisa dua kali lipat lebih besar. Bahkan, satu hari, ”Pernah cuma dapat Rp. 5.000,” katanya. Tak mendapatkan sepeser pun uang pernah juga ia rasakan.
Baik Agus maupun Bei, sepakat besar-kecilnya pendapatan seorang kuli panggul tergantung dari besar-kecilnya pemberian dari para penumpang. Sebab, tak ada tarif pasti yang mereka tentukan untuk mengangkut barang para penumpang. Biasanya, ia mendapatkan imbalan Rp 10.000 – Rp 20.000 atas jasa mengangkut barang dari para penumpang. Tergantung negoisasi harga.
Kadangkala, kata Agus, ia mendapatkan penumpang yang terlihat necis dan diharapkan memberikan uang agak lumayan, namun hanya memberikan uang recehan. Tak setimpal dengan bobot dan jumlah barang yang diangkut, katanya. ”Saya pernah bawa barang, sudah banyak dan berat lagi, tapi hanya dikasih goceng. Padahal naik Mercy,” ujarnya.
Saat hari raya Lebaran, kata Agus, duit yang ia dapat bisa lumayan besar karena sebagian besar kuli panggul merayakan Lebaran atau pulang kampung. ”Bisa dapat Rp 150.000,” katanya. Ia pernah beberapa kali bekerja saat Lebaran, namun itupun ia lakukan setelah silahturahmi dengan keluarga. ”Daripada di rumah nggak dapat duit,” ujarnya.
Pendapatan Agus selama ini dipergunakan untuk mengebulkan asap dapur di rumahnya. Namun, uang yang ia bawa pun belum cukup karena ia mesti membayar uang sekolah kedua anaknya. ”Jadi kalau pulang ke rumah utang di warung sudah banyak,” katanya, tersenyum.
Sementara itu, Bei mengatakan, uang yang ia dapat dikirimkan untuk keluarganya di kampung. Ia punya seorang istri dan tiga anak yang seluruhnya telah ia sekolahkan hingga SMP. Selain itu, kata dia, uang yang ia dapat untuk memperbaiki rumah di kampung. ”Ya, pokoknya bisa seperti tetangga-tetangga sebelah rumah,” ujarnya.
Sinar Harapan, September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar