13 November 2010

“Rumah Kita” yang Tidak Manusiawi

Disaat masih banyak warga di Republik ini hidup tidak manusiawi, para pejabat di negeri ini justru malah sibuk “memanusiawikan” dirinya sendiri. Menyediakan rumah yang layak adalah kewajiban dan tanggung jawab negara. Namun, Pemerintah gagal menyediakan hal itu.


Hanya bilik bambu tempat tinggal kita/Tanpa hiasan, tanpa lukisan/Beratap jerami, beralaskan tanah/…. Rumah kita//

Apa yang tersirat sepenggal bait lagu “Rumah Kita” di atas bukanlah suatu gambaran yang fana. Lirik itu mengungkapkan sebuah fakta mengenai kondisi tempat tinggal masyarakat kelas bawah yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia saat ini, yang bahkan, telah tergambar oleh penciptanya lebih dari 20 tahun silam.

Tengok saja tempat tinggal Mulyanto. Lantai “rumahnya” beralaskan tanah yang telah bercampur dengan bebatuan. Dindingnya menumpang tembok bangunan orang lain. Tidak ada hiasan, apalagi lukisan yang terpajang. Empat potong bambu yang terletak di sisi kanan dan kiri menjadi penyangga tempat tinggalnya.

Dua buah sofa berwarna hijau yang mulai lapuk karena sering terkena panas dan hujan teronggok di “halaman rumah”. Sebuah kasur tidur busa warna hijau yang mulai menghitam tergeletak di dalam. Begitu lembab dan minim cahaya, serta udara. Beberapa lapis terpal yang berlubang di beberapa bagian terbentang membentuk atap.

“Supaya kalau panas, tidak terlalu panas. Jadi adem,” ujar Mulyanto menjelaskan mengenai atapnya itu.

Mulyanto baru saja kelar menghabiskan makan pertamanya pada hari itu, ketika ditemui SH di tempat tinggalnya di pinggir bantaran rel kereta api di Senen, Jakarta Pusat, siang kemarin. Dalam satu hari ia dua kali makan. Penghasilannya sebagai pemulung, kata Mulyanto, hanya cukup untuk makan dua kali sehari.

“Satu hari paling saya dapat sekitar Rp. 10.000-Rp 15.000,” ujarnya. Penghasilan seorang pemulung dalam satu hari, menurut Mulyanto, memang sebesar itu. Namun, bila ada pemulung yang mengaku mendapatkan penghasilan mencapai Rp 50.000 per hari, “Ia seorang pendusta,” katanya.

Oleh karena pekerjaannya sebagai pemulung, maka tidak heran banyak sekali ditemukan rongsokan sampah berserakan di “kediamannya” yang hanya seluas 2X3 meter itu. Mulai dari sofa lapuk hingga kasur tidur busa merupakan hasil dari memulung.

Pria asal Semarang, Jawa Tengah, ini menuturkan, dirinya sudah lama tinggal di Jakarta. Namun, ia lupa secara pasti kapan pertama kali dirinya menginjakkan kaki di Jakarta. Ia hanya ingat, “Saat ‘Harimau Jakarta’ atau Bang Husni meninggal saya sudah ada di sini,” katanya, yang mengaku berusia 110 tahun ini.

Ia juga tidak ingat lagi tahun kelahirannya. “Hanya ingat hari itu Jumat Kliwon tanggal 15 bulan,” ujarnya. Yang pasti, kata dia, “Saya ini dulu pernah jadi serdadu Juliana dan BEPRI.” Ratu Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau adalah Ratu Belanda periode 1948-1980, sedangkan BEPRI adalah gerilyawan pejuang masa kemerdekaan.

Mulyanto sebenarnya punya tabungan sebesar Rp 550.000, yang sejak sebelum Lebaran sudah ia kumpulkan melalui seseorang yang ia kenal. Namun, orang itu membawa duitnya kabur. Rencananya uang itu akan digunakan untuk ongkos pulang ke kampung. “Akhirnya saat Lebaran saya hanya meringkuk saja di dalam. Tapi saya sudah kumpul lagi, sekarang sudah terkumpul Rp 115.000,” ujarnya.

Beratapkan langit

Kondisi serupa juga dialami Yanto (45) yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. “Rumahnya” di suatu persimpangan jalan di daerah Cipinang, Jakarta Timur, malah tak beratap dan tidak ada dinding, serta hanya beralaskan trotoar jalan. Ia telah lama tinggal menetap di sana, dan sejak tahun 1988 sudah berada di Jakarta.

Bersamanya ada sekitar 10 orang, yang punya pekerjaan sama seperti dirinya, yakni pemulung. Bila malam tiba, ia dan kawan-kawannya membentangkan terpal di lantai yang kotor dan disesaki rongsokan sampah itu untuk dijadikan sebagai alas. Cuaca panas dan dingin sudah biasa bagi dirinya.

“Kalau hujan tinggal pasang terpal,” katanya.

Menjalani hidup seperti ini terpaksa ia lakukan. Sebab, “Tidak punya tempat tinggal lain di Jakarta.” Sebenarnya, ia punya rumah di Karawang yang kini ditempati oleh istri dan anaknya berusia 11 tahun. Namun, karena ketiadaan lapangan pekerjaan, terpaksa ia hidup dan mencari duit dari mengais sampah di Jakarta.

“Kalau lagi lumayan sehari saya bisa dapat Rp 30.000,” ujarnya.

Meski tinggal di trotoar jalan, bukan berarti “rumah” yang ditempatinya itu gratis. Setiap bulan, kata Yanto, ia harus merogoh kocek sebesar sebesar Rp 100.000 untuk membayar “uang sewa” ke petugas Satpol PP yang tidak pernah absen menyambanginya. Itu belum termasuk uang rokok atau kopi yang wajib ia berikan ketika ada petugas Satpol PP patroli.

“Kalau nggak dibayar mereka marah dan mengancam akan mengangkut kami,” katanya.

Ketika SH meminta tanggapannya soal anggaran perbaikan rumah pejabat di negeri yang sampai miliaran bahkan triliunan rupiah, ia hanya tersenyum. “Beda praktek dengan teori dan fakta.” Hanya itu jawaban yang meluncur dari bibirnya.


Sinar Harapan, September 2010

Tidak ada komentar: