Seusai Lebaran, yayasan-yayasan penyalur rumah tangga (PRT) dibanjiri banyak tenaga baru yang berusia muda. Sejalan dengan itu, permintaan atas jasa PRT pun meningkat. Namun, meski siap bekerja, sebagian besar dari mereka sama sekali tidak terlatih atau punya pengalaman.
“Bunda… Saya minta tolong dong. Minta infonya mengenai yayasan penyalur pembantu yang bisa dipercaya. …Terima kasih sebelumnya,” demikian pesan di sebuah mailing list yang ditulis oleh salah seorang anggotanya pada 15 September lalu.
Sebaliknya, ada juga testimoni, baik yang terdengar secara langsung maupun di dunia maya, yang pada intinya kapok menggunakan jasa penyalur PRT. Tengok komentar dari seseorang dalam sebuah forum di dunia maya berikut ini.
“Jangan pernah mengambil PRT dari yayasan manapun. Pengalaman pribadi, sudah capek ambil PRT dari yayasan. Belum lama bekerja sudah minta pulang. Sudah gitu yayasan susah diminta pertanggungjawaban,” keluh orang ini.
Meski demikian, toh, sampai sekarang masih banyak saja orang yang mencari jasa penyalur pekerja rumah tangga. Tentu, ada beragam alasan mengapa masih ada yang mempercayakan jasa penyalur PRT. Begitupun sebaliknya, banyak juga yang sudah tidak lagi mempercayai jasa penyalur PRT.
Dedi, karyawan Yayasan Mangasi di Jakarta Barat mengatakan, meski banyak keluhan datang namun permintaan atas PRT masih terus ada. Sayang, ia tidak dapat memperkirakan berapa banyak PRT yang tersalurkan setiap harinya. Hanya saja, kata dia, setelah Lebaran permintaan bisa mencapai 20 orang PRT per hari.
Di Yayasan Mangasi, kata Dedi, untuk membawa seorang PRT mesti menyetorkan biaya administrasi sebesar Rp 900.000, dan seorang perawat atau baby sitter sebesar Rp. 1.000.000. “Untuk biaya ganti ongkos membawa PRT dari kampungnya ke Jakarta,” katanya, saat ditemui SH, Senin (20/9) petang.
Dari seorang PRT saja, kata Dedi, pihak yayasan bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 400.000 per orang. Sisa duit, kata dia, diberikan kepada sponsor yang telah membawa para calon PRT ke Jakarta. Di Yayasan Mangasi, kata Dedi, ada belasan sponsor yang bertugas mencari para calon PRT yang kebanyakan berasal dari Lampung, Pandeglang, Cianjur, dan Sukabumi.
Mengenai gaji, kata Dedi, antara PRT dengan perawat atau baby sitter berbeda-beda. Gaji seorang perawat atau baby sitter lebih besar ketimbang PRT, yakni mulai dari Rp. 1.000.000 hingga Rp. 1.500.000 per bulan. “Tergantung yang akan diurus siapa, balita, bayi atau jompo. Semakin sulit orang yang diasuh, maka gaji semakin mahal,” katanya.
Yang menyebabkan gaji perawat atau baby sitter lebih mahal, kata Dedi, itu karena mereka sudah dilatih dan terlatih. Di yayasannya, calon pekerja akan mendapatkan pelatihan di RS Jiwa di Grogol. Mereka bisa mendapatkan pelatihan di RS karena pemilik yayasan berprofesi sebagai perawat.
Bila sudah bekerja, kata Dedi, seorang perawat atau baby sitter akan dikenakan potongan gaji sebesar Rp 2.000.000. “Itu untuk biaya pelatihan mereka yang kami tanggung,” katanya. Namun, kata Dedi, untuk gaji PRT tidak akan dipotong karena tidak ada biaya pelatihan apa pun untuk PRT.
Dedi mengatakan, menentukan gaji seorang PRT juga tergantung dengan kesepakatan antara pekerja, majikan dan pihak yayasan. Pihaknya menawarkan gaji sekitar Rp 600.000 per bulan. Namun, kata dia, bila tidak sesuai harga itu masih bisa dibicarakan antara majikan dengan calon PRT.
“Kalau pembantunya oke, silahkan, tapi kalau pembantu nggak mau dengan gaji yang ditawarkan majikan, ya, batal,” katanya. Dedi bilang, gaji seorang PRT yang sama sekali belum punya pengalaman Rp 450.000 per bulan.
Permintaan Meningkat
Permintaan PRT menjelang dan setelah lebaran cukup banyak. Sebab, banyak PRT yang pulang merayakan Lebaran di kampung halaman. Tidak jarang, meski Lebaran telah usai, banyak yang pada akhirnya memutuskan untuk tidak lagi kembali ke Jakarta. Alasannya beragam.
“Ada yang kawin, ada yang tidak dibolehkan lagi bekerja oleh orangtua atau suaminya. Banyak deh alasannya,” katanya.
Setiap tahun, Dedi mengatakan, sebagian besar PRT-PRT yang disalurkan oleh yayasannya baru. Sejak tanggal 15 September lalu, katanya, ada sekitar 70 orang calon PRT yang datang dari kampung. “Semuanya orang baru,” katanya. Usia mereka, kata dia, rata-rata masih belia yakni antara sekitar 16-18 tahun.
Ia memperkirakan permintaan meningkat hingga 40 persen. Bahkan, kata dia, permintaan yang datang setelah Lebaran semakin banyak, tetapi persediaan PRT tidak ada. “Permintaan ada, tapi ‘stok’ nggak ada,” katanya. Jadi, kata dia, tidak ada seorang pun calon PRT yang mesti menunggu lama di tempat penampungan. “Jadi begitu tiba di sini, mereka langsung berangkat ke tempat majikan masing-masing,” katanya.
Dalam satu tahun, Dedi mengaku yayasan tempatnya bekerja bisa menyalurkan sekitar 800 orang PRT dan perawat.
Sama halnya dengan Yani, pegawai yayasan penyalur pekerja rumah tangga di bilangan Jakarta Timur. Ia mengatakan, sejak menjelang Lebaran, terutama pada saat Lebaran tiba, banyak permintaan atas PRT sementara (infal) yang datang.
“Biasanya mereka para majikan yang pekerjaan rumahnya sudah sangat bergantung dengan PRT, maka ketika PRT pulang kampung mereka kelimpungan dan akhirnya mencari pembantu infal,” katanya.
Sinar Harapan, September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar